Kementan

India Minati Pupuk Indonesia, Ekspor Dibuka Setelah Kebutuhan Petani Aman

39
×

India Minati Pupuk Indonesia, Ekspor Dibuka Setelah Kebutuhan Petani Aman

Sebarkan artikel ini

JAKARTA — Wakil Menteri Pertanian Sudaryono memastikan ketersediaan pupuk nasional tetap terjaga meski dunia tengah menghadapi tekanan geopolitik yang mengganggu rantai pasok global. Bahkan, Indonesia saat ini memiliki kelebihan stok yang membuka peluang ekspor ke berbagai negara, termasuk India.

Pernyataan itu disampaikan Sudaryono usai menerima kunjungan Duta Besar India untuk Indonesia, Sandeep Chakravorty, bersama jajaran Pupuk Indonesia Holding Company di Kantor Kementerian Pertanian, Kamis (16/4/2026).

Menurutnya, kondisi tersebut menunjukkan ketahanan sektor pupuk Indonesia tetap kuat di tengah situasi global yang tidak menentu. Ia juga menegaskan bahwa para petani tidak perlu khawatir terhadap ketersediaan pupuk.

“Kami pastikan stok pupuk aman, bahkan berlebih, dan tidak terdampak kondisi perang yang terjadi di berbagai kawasan,” ujarnya.

Dari sisi produksi, kapasitas nasional yang dikelola PT Pupuk Indonesia (Persero) mencapai sekitar 14,65 juta ton per tahun. Jumlah tersebut terdiri dari urea, NPK, ZA, hingga ZK yang menopang kebutuhan pertanian dalam negeri.

Dengan kebutuhan domestik yang terpenuhi, terdapat ruang bagi Indonesia untuk menyalurkan kelebihan produksi ke pasar internasional. Namun demikian, pemerintah menegaskan bahwa prioritas utama tetap pada pemenuhan kebutuhan petani di dalam negeri.

Sudaryono menjelaskan, India menjadi salah satu negara yang menunjukkan minat untuk mengimpor pupuk dari Indonesia. Peluang ini dinilai potensial karena perbedaan musim tanam antara kedua negara, sehingga tidak mengganggu distribusi pupuk nasional.

Menanggapi hal tersebut, Sandeep Chakravorty menyampaikan ketertarikan India untuk menjalin kerja sama impor pupuk melalui skema antar pemerintah atau government to government (G2G).

“Kami memahami bahwa kebutuhan domestik Indonesia menjadi prioritas. Namun jika ada kelebihan produksi, kami siap menjalin kerja sama untuk mengimpor pupuk dari Indonesia,” ujarnya.

Di sisi lain, Direktur Utama Rahmad Pribadi menegaskan bahwa kebijakan ekspor akan dijalankan secara terukur dengan mempertimbangkan siklus tanam nasional.

Ia menambahkan, Indonesia memiliki posisi strategis dalam menjaga keseimbangan pasokan pupuk, terutama di kawasan regional, berkat kapasitas produksi yang stabil.

“Ekspor dilakukan saat kebutuhan dalam negeri sudah aman. Kami juga memperhitungkan musim tanam agar tidak mengganggu distribusi pupuk bagi petani,” jelasnya.

Saat ini, stok pupuk nasional berada pada level yang cukup tinggi, yakni sekitar 1,2 juta ton. Produksi harian juga terus berjalan, dengan rata-rata 25.000 ton urea dan 15.000 ton NPK.

Dengan kondisi tersebut, Indonesia dinilai tidak hanya mampu menjaga ketahanan pangan nasional, tetapi juga berpotensi menjadi pemasok penting dalam mendukung kebutuhan pupuk global.

Sebelumnya, Sudaryono juga menerima kunjungan Duta Besar Australia untuk Indonesia, Roderick Bruce Brazier, untuk membahas kerja sama serupa. Selain mengekspor urea, Indonesia juga mengimpor bahan baku pupuk seperti fosfat dari Australia sebagai bagian dari hubungan dagang yang saling melengkapi. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *