INFOSULAWESI, JAKARTA — PT Pupuk Indonesia (Persero) menegaskan bahwa ketersediaan pupuk di dalam negeri tetap terjaga meskipun terjadi penutupan jalur pelayaran strategis Selat Hormuz akibat meningkatnya ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah.
Perusahaan menyatakan dampak konflik tersebut terhadap industri pupuk nasional relatif kecil karena sebagian besar bahan baku produksi berasal dari sumber domestik maupun negara yang tidak berada di wilayah konflik.
Sekretaris Perusahaan Pupuk Indonesia, Yehezkiel Adiperwira, menjelaskan bahwa kondisi tersebut membuat operasional produksi pupuk di Indonesia masih berjalan normal.
“Untuk saat ini konflik di kawasan Selat Hormuz tidak memberikan dampak langsung yang signifikan terhadap produksi pupuk di Indonesia,” ujar Yehezkiel dalam media briefing di Mercure Jakarta Cikini, Jumat (6/3).
Ia menerangkan, Pupuk Indonesia memproduksi dua jenis pupuk utama, yakni urea dan NPK.
Untuk pupuk urea, bahan baku utamanya berasal dari gas bumi yang tersedia di dalam negeri sehingga tidak bergantung pada jalur perdagangan internasional yang melewati kawasan konflik.
Sementara itu, bahan baku pupuk NPK memang sebagian diperoleh dari impor. Namun, sumber pasokannya tidak berasal dari negara-negara yang sedang terlibat konflik di Timur Tengah.
Menurut Yehezkiel, bahan baku fosfat untuk produksi NPK dipasok dari negara-negara Afrika Utara seperti Maroko dan Aljazair.
Adapun bahan kalium atau KCL diperoleh dari sejumlah negara produsen utama seperti Belarusia, Rusia, dan Kanada.
Dengan sumber pasokan tersebut, perusahaan memastikan kegiatan produksi tetap berjalan stabil. Bahkan, stok bahan baku yang dimiliki saat ini diperkirakan cukup untuk menopang produksi hingga enam sampai tujuh bulan ke depan.
Meski demikian, perusahaan tetap mencermati potensi dampak tidak langsung dari konflik global tersebut, khususnya terkait biaya logistik internasional.
Yehezkiel menjelaskan bahwa biaya pengiriman atau freight berpotensi meningkat apabila harga minyak dunia naik sebagai efek lanjutan dari ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah.
Di sisi lain, Pupuk Indonesia memastikan distribusi pupuk subsidi bagi petani tetap berjalan sesuai dengan penugasan pemerintah.
Pada tahun 2026, perusahaan mendapat mandat untuk menyalurkan sekitar 9,84 juta ton pupuk subsidi, meningkat dibandingkan tahun sebelumnya yang mencapai 9,55 juta ton.
Selain sektor pertanian, alokasi pupuk subsidi tahun ini juga diperluas untuk mendukung sektor perikanan.
Hingga saat ini, realisasi penyaluran pupuk subsidi tercatat telah mencapai sekitar 1,7 juta ton atau sekitar 18 persen dari total target distribusi nasional tahun ini. Angka tersebut disebut menjadi salah satu capaian awal tahun tertinggi dalam beberapa tahun terakhir.
Sementara itu, situasi di Timur Tengah kembali memanas setelah penutupan Selat Hormuz oleh Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC) menyusul serangan militer oleh Amerika Serikat dan Israel ke wilayah Teheran pada akhir Februari lalu.
Selat Hormuz dikenal sebagai salah satu jalur perdagangan laut paling vital di dunia karena menghubungkan Teluk Persia dengan Laut Arab.
Setiap tahun lebih dari 30 ribu kapal melintas di kawasan tersebut dengan membawa sekitar 11 persen perdagangan laut global.
Selain minyak dan gas, jalur tersebut juga menjadi rute penting bagi distribusi berbagai komoditas dunia, termasuk pupuk. Lebih dari 30 persen perdagangan pupuk urea global berasal dari negara-negara kawasan Teluk dan dikirim melalui jalur laut tersebut.
Karena itu, sejumlah pengamat menilai gangguan pada jalur distribusi tersebut berpotensi meningkatkan biaya produksi sektor pertanian global serta memicu risiko krisis pangan apabila konflik berlangsung dalam waktu lama.














