Makassar

Pemkot Makassar Perkuat Peran Masjid, 500 Imam Dibina Lewat Coaching Clinic

32
×

Pemkot Makassar Perkuat Peran Masjid, 500 Imam Dibina Lewat Coaching Clinic

Sebarkan artikel ini

MAKASSAR — Pemerintah Kota Makassar terus menunjukkan komitmennya dalam memperkuat kualitas ibadah dan menjadikan masjid sebagai pusat pembinaan umat. Salah satu langkah konkret dilakukan melalui peningkatan kapasitas imam masjid lewat kegiatan

Coaching Clinic Imam Rawatib.
Kegiatan yang digelar di Masjid Agung 45, Jalan Urip Sumoharjo, Selasa (17/3/2026), diinisiasi oleh Pemkot Makassar melalui Bagian Kesejahteraan Rakyat (Kesra) bekerja sama dengan Bosowa Peduli.

Turut hadir dalam kegiatan tersebut Ketua TP PKK Makassar Melinda Aksa, Founder Bosowa Corporindo Aksa Mahmud, Kepala Bagian Kesra Kota Makassar Muhammad Syarif, serta sekitar 500 imam rawatib dari berbagai wilayah di Kota Makassar.

Wali Kota Makassar, Munafri Arifuddin, menegaskan bahwa imam memiliki peran strategis, tidak hanya dalam memimpin salat berjamaah, tetapi juga dalam membimbing umat dan membangun nilai-nilai keislaman di tengah masyarakat.

“Imam adalah teladan. Karena itu, kapasitasnya harus terus ditingkatkan, baik dari sisi ilmu, praktik, maupun kesiapan dalam memimpin salat berjamaah,” ujarnya.

Menurutnya, imam yang berkualitas akan berdampak langsung pada kualitas jamaah, sekaligus menguatkan fungsi masjid sebagai pusat peradaban umat.
Dorong Standarisasi Bacaan dan Praktik Salat

Dalam kegiatan ini, para imam mendapatkan pembekalan komprehensif, mulai dari fiqih imamah, tata cara salat sesuai sunnah, hingga peningkatan kualitas bacaan Al-Qur’an, khususnya tajwid dan makhraj.

Program ini juga bertujuan mendorong standarisasi bacaan dan praktik salat di seluruh masjid di Makassar, sehingga pelayanan ibadah menjadi lebih berkualitas, seragam, dan menenangkan bagi jamaah.

Munafri mengakui, berdasarkan pengalamannya berkeliling masjid, masih ditemukan perbedaan dalam praktik imamah di lapangan.

“Masih ada perbedaan cara imam dalam memimpin salat. Karena itu, dibutuhkan kesepahaman dan standar bersama agar bisa memberikan pencerahan bagi masyarakat,” jelasnya.

Ia menambahkan, coaching clinic ini menjadi momentum untuk menyusun pedoman bersama sekaligus melakukan introspeksi dalam meningkatkan kualitas imam secara menyeluruh.
Masjid sebagai Pusat Solusi Sosial

Lebih jauh, Munafri menekankan bahwa peran imam tidak berhenti pada aspek ritual. Masjid harus dihidupkan sebagai pusat interaksi sosial dan penyelesaian berbagai persoalan umat.

“Masjid bukan hanya tempat salat, tetapi juga ruang interaksi masyarakat, termasuk dalam menyelesaikan persoalan sosial,” tegasnya.

Ia juga mendorong agar masjid menjadi ruang yang ramah bagi anak-anak, sebagai bagian dari upaya membentuk generasi Qur’ani menuju visi Indonesia Emas 2045.

Selain itu, para imam diharapkan mampu menyiapkan regenerasi dengan mencetak calon imam baru yang kompeten dan berkelanjutan.
Aksa Mahmud: Kualitas Bacaan Cerminkan Citra Daerah

Sementara itu, Founder Bosowa Corporindo, Aksa Mahmud, menekankan pentingnya peningkatan kompetensi imam sebagai bagian dari pembangunan kualitas masyarakat.

Menurutnya, kualitas bacaan imam menjadi indikator penting dalam membangun citra keagamaan suatu daerah.

“Kita ingin imam-imam di Makassar memiliki bacaan Al-Qur’an yang baik, bahkan sempurna. Ini penting untuk memberikan kesan positif bagi masyarakat dan pendatang,” ujarnya.

Ia juga menyoroti pentingnya budaya saling mengoreksi di antara para imam agar kualitas bacaan dan praktik ibadah terus meningkat.

“Kalau tidak saling mengingatkan, kesalahan bisa terus berulang. Tapi dengan evaluasi bersama, kita bisa memperbaiki diri,” tambahnya.

Aksa turut mengapresiasi langkah Pemkot Makassar dalam mendorong peningkatan kualitas imam dan khatib, serta berharap program pembinaan ini dapat berjalan secara berkelanjutan.

Antusiasme Tinggi, Program Akan Berlanjut
Diketahui, kegiatan ini diikuti sekitar 500 imam dari total sekitar 1.300 imam di Kota Makassar. Tingginya partisipasi menunjukkan antusiasme besar sekaligus kebutuhan akan pembinaan berkelanjutan.

Munafri berharap, kegiatan ini tidak sekadar seremonial, tetapi menjadi momentum pembelajaran yang berdampak nyata.

“Yang sudah baik kita tingkatkan, yang belum sempurna kita perbaiki. Yang terpenting adalah terus belajar dan saling mengingatkan,” tutupnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *