Kementan

Pupuk Indonesia Amankan Pasokan di Tengah Konflik Timur Tengah Lewat Diversifikasi Bahan Baku

29
×

Pupuk Indonesia Amankan Pasokan di Tengah Konflik Timur Tengah Lewat Diversifikasi Bahan Baku

Sebarkan artikel ini
Pupuk Indonesia

JAKARTA– PT Pupuk Indonesia (Persero) mengambil langkah strategis untuk menjaga keberlanjutan pasokan pupuk nasional dengan memperluas sumber bahan baku di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah. Upaya ini dilakukan untuk mengantisipasi gangguan rantai pasok global sekaligus memastikan kebutuhan petani tetap terpenuhi.

Sekretaris Perusahaan Pupuk Indonesia, Yehezkiel Adiperwira, menjelaskan bahwa tidak semua bahan baku utama pupuk tersedia di dalam negeri. Unsur penting seperti fosfat (P) dan kalium (K), yang digunakan dalam produksi pupuk NPK, masih harus diperoleh dari luar negeri.

Saat ini, pasokan fosfat diperoleh dari sejumlah negara di Afrika Utara, antara lain Maroko, Tunisia, dan Aljazair. Sementara itu, kebutuhan kalium dipenuhi dari Kanada dan Laos yang relatif aman dari dampak konflik di Timur Tengah.

Adapun bahan baku yang paling berpotensi terdampak oleh eskalasi konflik adalah sulfur (S), yang digunakan dalam produksi asam sulfat sebagai komponen penting pupuk NPK. Selama ini, sebagian sulfur masih dipasok dari negara-negara Timur Tengah seperti Uni Emirat Arab, Qatar, dan Kuwait.

Meski demikian, perusahaan memastikan risiko gangguan tetap dapat diantisipasi. Alternatif pasokan sulfur tersedia dari negara lain seperti Kanada dan Kazakhstan, sementara sebagian kebutuhan asam sulfat juga dapat dipenuhi dari sumber dalam negeri.

“Diversifikasi ini memungkinkan proses produksi tetap berjalan optimal, sehingga distribusi pupuk kepada petani tidak terganggu,” ujar Yehezkiel dalam keterangannya.

Selain memperluas sumber bahan baku, perusahaan juga memperkuat pengelolaan stok dengan menjaga ketersediaan fosfat, kalium, sulfur, dan asam sulfat dalam jumlah memadai. Langkah ini sekaligus menjadi strategi menghadapi potensi kenaikan biaya logistik akibat fluktuasi harga energi global.

Di sisi lain, Pupuk Indonesia memastikan kondisi pasokan pupuk nasional tetap aman. Sebagai salah satu produsen pupuk terbesar di dunia, perusahaan memiliki kapasitas produksi yang besar serta cadangan bahan baku yang cukup untuk mendukung kebutuhan dalam negeri.

Saat ini, total kapasitas produksi Pupuk Indonesia Grup mencapai 14,8 juta ton per tahun untuk berbagai jenis pupuk. Untuk pupuk urea, kapasitas produksi bahkan mampu memenuhi seluruh kebutuhan domestik.

Perusahaan menegaskan komitmennya dalam menjalankan penugasan pemerintah untuk menjaga ketersediaan dan keterjangkauan pupuk bagi petani, terutama di tengah dinamika global yang terus berkembang.

Secara fundamental, produksi urea nasional relatif stabil karena bahan bakunya berupa gas bumi berasal dari dalam negeri dengan pasokan dan harga yang telah diatur pemerintah. Dengan kondisi ini, gangguan di jalur distribusi global seperti Selat Hormuz tidak memberikan dampak signifikan terhadap pasokan urea nasional.

Selain menjaga pasokan, perusahaan juga terus melakukan peningkatan efisiensi melalui program revitalisasi industri yang mengacu pada Peraturan Presiden Nomor 113 Tahun 2025. Program tersebut mencakup pembangunan pabrik baru serta modernisasi tujuh pabrik dalam lima tahun ke depan.

Melalui kombinasi strategi diversifikasi bahan baku, penguatan manajemen stok, dan peningkatan kapasitas produksi, Pupuk Indonesia optimistis dapat menjaga stabilitas pasokan pupuk nasional secara berkelanjutan. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *