Gorontalo

Tradisi Malam Qunut di Tabongo Gorontalo Ramai Pengunjung dan Pedagang

67
×

Tradisi Malam Qunut di Tabongo Gorontalo Ramai Pengunjung dan Pedagang

Sebarkan artikel ini
Sejumlah penjual kacang melayani pembeli pada tradisi Malam Qunut di Tabongo, Kabupaten Gorontalo.

GORONTALO — Tradisi Malam Qunut di Tabongo, Kabupaten Gorontalo diramaikan oleh pengunjung dan pedagang yang memanfaatkan kegiatan tersebut untuk berjualan berbagai makanan dan mainan.

Salah seorang pedagang, Ismail Erlama, di Gorontalo, Jumat mengaku sering berjualan saat perayaan Malam Qunut dengan menyediakan sejumlah dagangan, seperti pisang, kacang, dan mainan untuk pengunjung.

Ia mengaku membawa kacang dalam jumlah cukup banyak untuk dijual maupun diedarkan kepada pedagang lain yang ikut berjualan di lokasi kegiatan.

“Saya bawa kacang sampai sekitar 2.000 liter. Kacang itu juga saya edarkan kepada orang-orang yang berjualan di sini,” kata dia.

Selain kacang, ia juga membawa sekitar 600 sisir pisang untuk dijual kepada pengunjung yang datang menikmati suasana Malam Qunut.

Ia menjelaskan kacang yang dijual tersebut bukan hasil tanam sendiri, melainkan dibeli dari pemilik kebun untuk kemudian dijual kembali.

Menurut dia, penjualan pada tahun ini mulai menunjukkan peningkatan pada hari ketiga pelaksanaan Malam Qunut.

“Kalau hari pertama dan kedua masih sepi, tapi hari ketiga ini penjualannya sudah lumayan,” katanya.

Salah seorang pengunjung, Alwin, mengaku hampir setiap tahun datang ke Malam Qunut karena jarak lokasi kegiatan dekat dari rumahnya.

Ia mengatakan tradisi tersebut selalu menarik untuk dikunjungi karena banyak pedagang yang menjual berbagai makanan, terutama pisang dan kacang yang menjadi daya tarik pengunjung.

“Saya setiap Malam Qunut pasti datang karena rumah saya dekat dan paling menarik itu pisang juga kacang, ini juga sudah jadi tradisi turun-temurun,” katanya.

Wakil Bupati Gorontalo Tonny S Junus mengatakan Malam Qunut merupakan tradisi turun-temurun masyarakat setempat yang dilaksanakan setiap tahun, menjelang pertengahan Ramadhan.

“Tradisi ini tidak hanya menyemarakkan bulan suci Ramadhan, tetapi juga menghadirkan nuansa silaturahmi, nuansa keagamaan, serta memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat dan sekitarnya,” katanya.

la mengatakan ciri khas kegiatan tersebut, adanya berbagai jajanan tradisional yang dijual masyarakat, terutama pisang dan kacang, yang menjadi daya tarik warga yang datang meramaikan kegiatan tersebut.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *