MAKASSAR — Ikatan Alumni Jogja Asal Sulawesi Selatan (IKAJO) menggelar Dialog Kealumnian Lintas Generasi di Hotel MaxOne Makassar, Sabtu (4/4/2026). Kegiatan ini menjadi ruang refleksi strategis untuk memperkuat sinergi antar generasi alumni sekaligus merumuskan arah organisasi ke depan yang lebih berdampak.
Dialog tersebut menghadirkan tiga pemantik utama dari lintas generasi, yakni Mustakim (generasi muda), AM. Iqbal Parewangi (generasi pendiri), dan Tadjuddin Rachman (generasi senior). Ketiganya menyampaikan perspektif yang beragam namun saling melengkapi dalam membangun kekuatan organisasi alumni.
Dalam paparannya, Mustakim menekankan pentingnya transformasi organisasi alumni agar lebih terstruktur dan profesional. Ia menilai bahwa organisasi alumni tidak cukup hanya menjadi wadah silaturahmi, tetapi harus mampu mengelola potensi sumber daya manusia secara sistematis untuk berkontribusi nyata dalam pembangunan.
“Organisasi alumni harus bergerak lebih terstruktur dan profesional. Kekuatan alumni terletak pada keberagaman sumber daya manusia yang harus dikelola secara sistematis,” ujarnya.
Ia juga mengusulkan penguatan organisasi melalui konsep presidium, pengembangan jaringan alumni, peningkatan kesejahteraan anggota, serta kolaborasi lintas profesi sebagai langkah strategis memperbesar dampak organisasi.
Sementara itu, AM. Iqbal Parewangi menyampaikan perspektif filosofis mengenai pentingnya nilai kebersamaan dalam organisasi alumni. Menurutnya, alumni dibangun dari pengalaman, cerita, dan cita-cita bersama yang menjadi fondasi utama kekuatan organisasi.
“Perbedaan dalam organisasi alumni tidak perlu menjadi konflik, tetapi harus disinergikan agar menghasilkan energi yang lebih besar,” ungkapnya.
Pandangan tersebut diperkuat oleh Tadjuddin Rachman yang menegaskan bahwa organisasi alumni harus memberikan nilai tambah dan tidak sekadar menjadi ruang berkumpul. Ia mengingatkan bahwa alumni Yogyakarta pernah menjadi kekuatan signifikan di Sulawesi Selatan dan potensi tersebut perlu dihidupkan kembali.
“Generasi muda harus diberi ruang untuk bergerak, sementara generasi senior menjadi payung dan pembimbing agar organisasi tetap solid dan berkelanjutan,” jelasnya.
Dialog juga diperkaya oleh pandangan peserta lain, termasuk Arif Nur dan sejumlah alumni lintas generasi yang menyoroti pentingnya menurunkan ego sektoral, memperkuat sinergi, serta memperluas kontribusi organisasi di berbagai bidang.

Para peserta sepakat bahwa organisasi alumni memiliki potensi besar yang harus diarahkan secara strategis agar memberikan dampak nyata bagi masyarakat. Sinergi antara generasi senior yang kaya pengalaman dan jaringan, serta generasi muda yang penuh energi dan inovasi, dinilai menjadi kunci utama.
Momentum dialog lintas generasi ini diharapkan menjadi titik balik dalam membangun kembali kekuatan alumni Yogyakarta di Sulawesi Selatan. Dengan kolaborasi yang solid, organisasi alumni tidak hanya menjadi simbol kebersamaan, tetapi juga kekuatan sosial yang mampu memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat, daerah, dan bangsa.














