Berita

Sebulan, Tiga Jenazah Warga Toraja di Luar Negeri Berhasil Dipulangkan, Anggota DPR RI Frederik Kalalembang Punya Peran Besar Dibalik Pemulangan Ini

153
×

Sebulan, Tiga Jenazah Warga Toraja di Luar Negeri Berhasil Dipulangkan, Anggota DPR RI Frederik Kalalembang Punya Peran Besar Dibalik Pemulangan Ini

Sebarkan artikel ini
Anggota DPR RI Fraksi Partai Demokrat Irjen Pol (P) Drs Frederik Kalalembang

TORAJA — Dalam kurun waktu satu bulan, tiga jenazah Warga Negara Indonesia (WNI) yang merupakan putra Toraja yang meninggal di luar negeri, yakni Taiwan, Jerman, dan Australia, berhasil dipulangkan ke kampung halaman di Toraja, Sulawesi Selatan. Di balik proses yang tidak sederhana itu, ada peran besar Anggota DPR RI Irjen Pol (P) Drs Frederik Kalalembang yang terus memantau dan memastikan setiap tahapan berjalan tanpa hambatan berarti, hingga ketiganya bisa kembali ke tanah kelahiran.

Minggu, 19 April 2026, hari ini menjadi hari penuh haru bagi keluarga almarhum Mathius Pulo, seorang anak buah kapal (ABK) asal Toraja yang meninggal di Taiwan. Setelah melalui proses panjang di Taiwan, jenazahnya akhirnya tiba di Makassar dan langsung diberangkatkan melalui jalur darat menuju Toraja. Penantian keluarga pun berakhir, meski dalam suasana duka yang mendalam.

Mathius diketahui meninggal dunia saat bekerja di kapal berbendera Taiwan di perairan internasional dekat Samoa. Proses evakuasi tidak mudah, karena posisi kapal masih berada di tengah laut saat kabar duka diterima pihak keluarga. Jenazahnya kemudian dibawa ke Taiwan untuk menjalani autopsi dan proses administrasi sebelum akhirnya dipulangkan ke Indonesia.

Dalam proses itu, Frederik Kalalembang berkomunikasi dengan KBRI dan atase kepolisian dan berbagai pihak guna proeses pemulangan dan administrasi berjalan tanpa hambatan.

Dari Laut Taiwan ke Toraja, Proses Panjang yang Berujung Kepastian

Dalam kondisi awal yang penuh keterbatasan informasi, keluarga Mathius sempat berada dalam kebingungan. Namun, melalui Frederik kalalembang dan komunikasi yang dibangun secara intensif dengan KBRI dan pihak terkait, proses pemulangan mulai menemukan titik terang.

Jenazah Mathius, ABK kapal di Taiwan saat tiba di Bandara Internasional Sultan Hasanuddin, Makassar dan bersiap dibawa ke Toraja

Peran penting dalam proses ini tidak lepas dari Frederik Kalalembang. Dengan jaringan yang dimilikinya, ia membuka akses komunikasi lintas negara, menjembatani koordinasi dengan KBRI serta atase setempat, hingga memastikan seluruh proses berjalan cepat dan tanpa kendala berarti.

Yance, paman Mathius, menyampaikan apresiasi dan rasa terima kasih yang mendalam. “Di saat kami tidak tahu harus berbuat apa, beliau hadir membantu. Semua proses dipantau hari demi hari. Kami tidak dipersulit, justru dipermudah melalui jaringan beliau di luar negeri sampai keponakan kami bisa pulang ke Toraja,” ujarnya dengan haru.

Dari Jerman hingga Australia: Tiga Duka, Satu Peran yang Sama

Kisah serupa juga terjadi pada almarhum Joni Pailin, warga Toraja yang meninggal dunia di Jerman akibat kecelakaan kerja. Proses pemulangannya melibatkan tahapan panjang lintas negara, mulai dari penanganan jenazah hingga kelengkapan dokumen internasional, sebelum akhirnya dimakamkan di kampung halamannya, Sabtu 18 April 2026. Semua proses melalui komunikasi yang dibangun Frederik dengan pihak KBRI di Jerman dan atase setempat hingga akhirnya jenazah berhasil dibawa ke Indonesia hingga ke Toraja.

Jenazah almarhum Joni Pailin, warga Toraja yang meninggal dunia di Jerman akibat kecelakaan kerja diterima pihak keluarga di Toraja.

Sementara itu, dari Australia, duka mendalam datang dari keluarga almarhum Marthen Tandi. Ia meninggal dunia secara mendadak saat merantau, meninggalkan keluarga dalam kebingungan dan keterbatasan informasi di awal kejadian. Sang kakak, Ruben Tandi Tondong, menjadi pihak pertama yang berupaya mencari jalan agar jenazah adiknya bisa dipulangkan ke Indonesia.

Dalam situasi penuh ketidakpastian itu, Ruben akhirnya meminta bantuan kepada Frederik Kalalembang. Respons cepat yang diberikan menjadi titik balik, jalur komunikasi dengan KBRI dan pihak terkait di Australia segera dibuka, dan proses yang semula terasa buntu mulai menemukan arah.

Ruben mengungkapkan rasa terima kasihnya dengan penuh haru. “Di saat kami benar-benar tidak tahu harus ke mana, Bapak Frederik hadir membantu. Semua proses jadi lebih jelas, lebih cepat, dan kami tidak merasa sendirian. Kami sangat bersyukur jenazah almarhum adik kami bisa pulang dengan layak ke Toraja,” tuturnya.

Dalam ketiga peristiwa ini, satu benang merah terlihat jelas, kepulangan mereka tidak lepas dari peran Frederik Kalalembang yang secara aktif membuka akses, mempercepat koordinasi, serta memastikan seluruh proses berjalan tanpa hambatan berarti.

Frederik Kalalembang Selalu Ingatkan Komunikasi yang Utama

Sementara itu, di tengah kisah duka ini, Frederik Kalalembang yang juga Ketua Umum Ikatan keluarga Toraja Nussantara (IKaTNUS) menyampaikan pesan yang tegas bagi masyarakat, khususnya warga Toraja yang merantau di luar negeri. Ia mengingatkan bahwa keselamatan dan komunikasi adalah hal utama yang tidak boleh diabaikan.

“Di perantauan, jangan pernah merasa sendiri. Jaga diri, jaga pergaulan, dan yang paling penting, selalu bangun komunikasi dengan keluarga. Sekecil apa pun masalah, jangan dipendam sendiri,” tegasnya.

Ia juga menekankan pentingnya menjaga kebersamaan sesama warga Indonesia, khususnya sesama orang Toraja di luar negeri.
“Kalau bertemu sesama orang Indonesia atau orang Toraja, jangan saling menjauh. Justru harus saling merangkul, saling menjaga, dan mempererat persaudaraan. Di situlah kekuatan kita di perantauan,” lanjutnya.

Menurut Frederik, banyak persoalan di luar negeri bisa diselesaikan lebih cepat jika ada komunikasi dan solidaritas antar sesama. Karena itu, ia mendorong agar setiap perantau tidak ragu untuk saling membantu dan membuka diri.

“Jika ada masalah jangan tunggu masalah jadi besar baru mencari bantuan. Bangun komunikasi dengan keluarga jika di luar negeri, saling peduli, dan saling mengingatkan. Itu kunci agar kita tetap aman di negeri orang. Jika ada hal yang urgen segera sampaikan siapa yang bisa dihubungi” ujarnya.

Frederik juga mengimbau agar apabila ada keluarga yang meninggal secepatnya diinfokan dan sudah tugas bersama untuk membantu agar proses pemulangan bisa berjalan dengan baik dan lancar.

Dalam waktu kurang dari satu bulan, tiga jenazah warga Toraja dari luar negeri berhasil kembali ke tanah kelahirannya. Bukan sekadar angka, tetapi cerminan bahwa kepedulian, jaringan, dan komunikasi yang berjalan dengan baik mampu menghadirkan kepastian di tengah situasi yang paling sulit.

Karena pada akhirnya, sejauh apa pun seseorang pergi, selalu ada satu tempat yang menunggunya pulang, dan selalu ada kepedulian yang memastikan perjalanan terakhir itu benar-benar sampai ke rumah. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *