PALOPO — Masjid Jami Tua Palopo di Jalan Andi Djemma, Kelurahan Batupasi, Kecamatan Wara Utara, Kota Palopo, Sulawesi Selatan (Sulsel) menjadi saksi sejarah penyebaran Islam di provinsi berjuluk Anging Mamiri. Masjid tertua di Sulsel ini masih berdiri kokoh dengan bangunan aslinya yang unik.
Berdasarkan catatan sejarah, masjid ini dibangun pada 1604 Masehi, masa pemerintahan Datu Luwu ke-16 Pati Pasaung. Arsitekturnya memadukan unsur budaya Bugis, Jawa, dan Tiongkok. Selain menjadi pusat penyebaran agama Islam pertama di Tanah Luwu, Masjid Jami Tua Palopo kini berstatus situs cagar budaya dan lokasi studi pendidikan.
Keunikan masjid ini terlihat dari proses pembangunannya. Bangunan didirikan tanpa menggunakan tiang besi dan paku. Struktur masjid hanya memanfaatkan putih telur dan kapur sebagai perekat batu alam, menggantikan semen pada masa itu.
Bangunan juga ditopang lima tiang penyangga dari kayu cina duri atau pohon kenanga. Lima tiang tersebut berusia lebih tua dari bangunan masjid dan melambangkan rukun Islam.
Pengurus Masjid Jami Tua Palopo, Andi Adnan Baso menjelaskan masjid ini merupakan salah satu masjid peninggalan Kerajaan Luwu yang menjadi bagian dari kompleks Istana Kerajaan Luwu. Proses pembangunannya dilakukan secara gotong royong dengan bentuk piramida serta memiliki lima tiang utama yang melambangkan rukun Islam.
“Jadi bangunan sendiri merupakan bukti penyebaran Islam di Sulawesi khususnya di tanah Luwu, di mana masjid ini berbentuk piramida dengan unsur budaya Bugis, Jawa dan Tiongkok. Serta di dalam bangunannya terdapat empat tiang dan satu tiang utama yang melambangkan rukun Islam,” kata Andi Adnan Baso, Sabtu (28/06/26).
Ia juga menjelaskan proses pembangunan Masjid Jami Tua tidak menggunakan semen dan paku. Batu kali direkatkan dengan campuran putih telur dan kapur sirih, sedangkan tiang hanya dipahat dan disatukan tanpa paku.
“Jadi bangunannya sendiri berdiri tanpa menggunakan semen, di mana untuk batu kalinya direkatkan dengan bahan putih telur dan kapur. Sementara tiangnya hanya dipasang dengan pahatan tanpa menggunakan paku,” terangnya.
Masjid Jami Tua menjadi salah satu bukti sejarah peradaban Islam di Indonesia Timur. Hingga kini, masjid tersebut masih banyak dikunjungi wisatawan Nusantara dan mancanegara. Selama bulan suci Ramadan, masjid ini selalu ramai didatangi umat Muslim untuk beribadah.


