Berita

KAHMI Buka Puasa di Kediaman Pak JK

31
×

KAHMI Buka Puasa di Kediaman Pak JK

Sebarkan artikel ini

JAKARTA — Majelis Nasional Keluarga Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (KAHMI), Jumat (6/3/2026) petang mengadakan acara berbuka puasa yang dilanjutkan dengan salat tarawih berjamaah di kediaman Ketua Dewan Etik KAHMI M.Jusuf Kalla (JK) di Jakarta.

Hadir pada acara buka puasa bersama ini, Prof.Dr.Komaruddin Hidayat yang juga Rektor Universitas Islam Internasional (UII) sekaligus menyampaikan ceramah. Wakil Ketua Dewan Etik KAHMI Hamdan Zoelva, dan Sekretaris Dewan Etik KAHMI Muhlis Patahna dan puluhan anggota KAHMI.

JK pada kesempatan itu mengatakan, gejolak konflik antara AS-Isarel dan Iran ke depan jelas akan berpengaruh terhadap kondisi perekonomian Indonesia.

Jika kondisi ini terus berlangsung, Indonesia akan kesulitan membayar utangnya karena tidak ada pendapatan, sementara perbelanjaan kian meningkat. Antara pendapatan dengan belanja dan kewajiban membayar utang mengalami ketimpangan.

“Saya minta kepada KAHMI untuk lebih fokus pada aktivitasnya masing-masing. Yang di kampus teruslah mengajar dengan baik, dan yang bergerak di bidang ekonomi tetaplah berusaha dengan baik,” ujar JK.

Prof.Komaruddin Hidayat mengatakan, banyak menerima pertanyaan mahasiswa asing yang heran melihat kebersatuan Indonesia sebagai suatu negara yang terdiri atas beribu-ribu pulau.

“Kok bisa bangsa Indonesia bersuku-suku dan berbangsa lain, bisa menjadi satu. Lain bahasa dan agama, kok bisa menjadi satu. Jadi di situlah kami menjelaskan kepada mereka tentang Islam Wasakiah, semacam mata kuliah dasar umum. Semua fakultas dan agama apa pun juga mengambilmata kuliah ini,” ujar Komaruddin Hidayat.

Pertanyaan dari mahasiswa asing itu adalah bagaimana Islam bisa berkembang di Indonesia, padahal dihalangi oleh Hindia (Hindu), sebelah utara Thailand (Budha), sebelah timurnya China dan tenggara Australia. Mengapa tiba-tiba Indonesia menjadi kantong umat Islam.

“Itu satu keajaiban sejarah,” kata Komaruddin Hidayat.

Dia menjelaskan, dulu di Nusantara ini merupakan pusat kebudayaan Hindu Budha. Monumennya yang paling nyata adalah Borobudur dan Prambanan. Belum lagi patung-patung banyak sekali. Sampai hari ini objek turis yang dibanggakan adalah Pulau Bali dan candi Hindu Budha itu. Jadi yang dibanggakan itu adalah warisan Hindu Budha.

Sementara di India kalau Islam itu Taj Mahal di Kota Agra. Di Spanyol adalah Al Hambra, di Konstatinopel adalah Aya Sophia (Katolik) dan kini diubah menjadi Istanbul.

Indonesia ini, kata Komaruddin Hidayat, mempunya lapisan-lapisan budaya, Hindu Budha, Islam, Kristen,Katolik. Dan yang menarik, ide apa saja di Indonesia itu laku. Untuk menjawab bagaimana Islam bisa hidup di tengah Hindu Budha, karena Islam datang ke Indonesia dibawa oleh pedagang. Ciri pedagang memperbanyak kawan, tidak mau mencari musuh. Sebab kalau banyak musuh bagaimana dagangnya, hancur.

Pedagang yang datang ke Indonesia dari Gujarat atau dari China itu, cirinya adalah senang berkawan. Kedua, membawa ajaran sufistik, tasawuf.

Tasawuf itu nyambung dengan ajaran Hindu Budha yang lebih pada pendekatan meditatif. Tasawuf dan Hindu itu mirip. Karena tidak berbenturan, satu mentalnya pedagang, dan sufistik sehingga akan terjadi hubungan pergaulan yang lunak.

Islam yang masuk ke Indonesia itu tanpa darah dan pedang. Di luar sana mesti meninggalkan masalah karena berkaitan dengan penaklukan. Di Indonesia Islam berkembang dengan damai.

Juga Islam itu masuk dari Sumatra dan menggunakan bahasa Melayu yang merupakan bahasa perdagangan.

Penyebaran bahasa Melayu dan penyebaran dagang dan agama Islam itu serempak menjadi satu. Pusatnya di kota-kota pantai, dari Banten, Semarang, Surabaya, Makassar, Ternate, dan semua kota-kota di pantai. Di situ pusat Islam, pusat dagang, dan penyebaran bahasa Melayu.

Oleh karena itu kesatuan Nusantara yang besar ini salah satu pilar yang menyatukan itu adalah kesamaan agama dan bahasa. Kalau kita bicara sosiologis, karena ada dua etnis saling tidak senang, kecuali mereka Islam. Jadi yang mengikat antarpulau itu adalah kesamaan agama dan bahasanya.

Sehingga, politik bahasa nasional yang paling berhasil di dunia itu adalah Indonesia. Malaysia dan India kalah. Indonesia menggunakan bahasa Indonesia.

Di antara peran bahasa Indonesia sehingga bersinergi dengan Islam dan perdagangan, karena memiliki egalitarian (egaliter). Islam adalah pemegang paham egalitarian. Mengapa tidak terjadi bentrok karena pulau-pulau di Indonesia itu masing-masing subur. Ini berbeda dengan kondisi alam ketika Islam datang ke Timur Tengah. Terjadi perang antarsuku dan luar biasa.

Bahkan Nabi Muhammad saw hijrah dari Mekkah ke Madinah, diharapkan menjadi pemersatu suku-suku yang sudah berapa keturunan tidak rampung-rampung masalahnya. 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *