MAKASSAR – Ratusan mata dan puluhan lensa teleskop diarahkan ke ufuk barat dari ketinggian 180 meter di atas permukaan laut. Namun, awan tebal dan posisi bulan yang masih “tidur” membuat perburuan hilal penentu 1 Syawal 1447 H di Makassar diprediksi bakal sia-sia.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Wilayah IV Makassar bersama Kementerian Agama dan sejumlah instansi terkait menggelar pemantauan hilal di Observatorium Universitas Muhammadiyah Makassar (UMM), Kamis (19/3/2026) sore.
Pantauan yang dimulai sejak pukul 15.00 WITA ini menjadi salah satu dari 117 titik pengamatan di seluruh Indonesia.
Kepala Bidang Observasi BMKG Wilayah IV Makassar, Jamroni, mengungkapkan bahwa secara astronomis, peluang hilal terlihat di Kota Makassar sangat kecil.
“Berdasarkan keterangan yang kami peroleh, untuk hilal di Makassar sepertinya cukup sulit untuk teramati. Diperkirakan hilal hanya berada pada ketinggian 1 derajat lebih. Dengan posisi di bawah 3 derajat, potensi hilal untuk terlihat sangat kecil meskipun cuaca cerah,” ungkap Jamroni saat ditemui di lokasi pengamatan.
Berdasarkan data hisab BMKG, ijtimak atau konjungsi awal Syawal 1447 H terjadi pada pukul 09:23:23 WITA. Pada saat matahari terbenam pukul 18:13:30 WITA, posisi bulan berada pada ketinggian hanya 1° 40.32′ atau sekitar 1,67 derajat dengan elongasi 5,27 derajat. Artinya, bulan hanya berselang 9 menit di atas ufuk sebelum akhirnya tenggelam pada pukul 18:22:31 WITA.
Kondisi ini jauh dari kriteria MABIMS (Menteri Agama Brunei, Indonesia, Malaysia, dan Singapura) yang mensyaratkan hilal minimal 3 derajat dengan elongasi 6,4 derajat.
“Di Makassar ketinggian hilal masih 1 koma, belum memenuhi kriteria Mabims. Kemudian sudut elongasinya masih 5 koma, juga belum memenuhi. Jadi kemungkinan besar di Kota Makassar tidak terpenuhi,” tegas Jamroni.
Selain faktor ketinggian, cuaca juga menjadi tantangan tersendiri. Sejak pagi, langit Makassar diselimuti awan tebal. Meski sesekali matahari muncul, potensi hilal tetap sulit terdeteksi.
“Kita lihat memang dari tadi pagi udaranya mendung, awannya cukup tebal. Tapi ini sudah muncul, mudah-mudahan cuacanya baik,” ujar Jamroni sambil mengamati pergerakan awan.
Empat unit teropong disiapkan di lokasi pengamatan, sebagian merupakan alat hibah Kementerian Agama dan sebagian lagi milik BMKG yang telah digunakan selama hampir setengah tahun. Alat-alat ini terintegrasi antara sistem manual dan digital untuk memudahkan penentuan benda langit.
Meskipun di Makassar hilal sulit diamati, Jamroni menyebut ada titik lain di Indonesia yang berpeluang melihat hilal. Salah satunya di Banda Aceh, di mana ketinggian hilal tercatat 3,11 derajat, meski elongasinya baru mencapai 6,10 derajat atau masih di bawah kriteria Mabims.
“Untuk itu ada pengamatan di 117 tempat di Indonesia, salah satunya di Aceh yang sudah memenuhi kriteria di atas 3 derajat dan sudah mendekati kriteria elongasi di 6,1,” jelasnya.
Hasil pengamatan di Makassar dan seluruh Indonesia akan dilaporkan ke Kementerian Agama RI untuk kemudian dibahas dalam sidang isbat. Sidang inilah yang nantinya akan memutuskan secara resmi kapan 1 Syawal 1447 H dimulai.
“Nantinya hasil rukyatul hilal hari ini akan dilaporkan ke Kementerian Agama RI, kemudian menunggu hasil sidang isbat untuk menentukan kapan akan memasuki 1 Syawal 1447 Hijriah,” pungkas Jamroni.
Di Sulawesi Selatan sendiri, ketinggian hilal bervariasi mulai dari 1° 34.99′ di Benteng, Kabupaten Kepulauan Selayar, hingga 1° 49.32′ di Masamba, Kabupaten Luwu Utara.
Angka ini masih di bawah kriteria visibilitas hilal, memperkuat prediksi bahwa awal Syawal kemungkinan besar akan ditentukan berdasarkan hasil hisab atau konfirmasi dari wilayah lain yang memenuhi kriteria. (*)














