Makassar

Hari Kesiapsiagaan Bencana 2026, Munafri Tekankan Mitigasi dan Kolaborasi Hadapi Ancaman Bencana di Makassar

45
×

Hari Kesiapsiagaan Bencana 2026, Munafri Tekankan Mitigasi dan Kolaborasi Hadapi Ancaman Bencana di Makassar

Sebarkan artikel ini

MAKASSAR — Pemerintah Kota Makassar terus memperkuat kesiapsiagaan menghadapi potensi bencana melalui langkah strategis yang terukur dan kolaboratif. Upaya ini mencakup peningkatan koordinasi lintas sektor, edukasi masyarakat, hingga kesiapan sarana prasarana penanggulangan bencana.

Hal tersebut disampaikan Wali Kota Makassar, Munafri Arifuddin, saat menghadiri peringatan Hari Kesiapsiagaan Bencana 2026 yang digelar oleh BPBD Kota Makassar di Jalan Kerung-Kerung, Rabu (29/4/2026).

Kegiatan tersebut turut dihadiri Wakil Wali Kota Makassar Aliyah Mustika Ilham, Ketua TP PKK Melinda Aksa, jajaran OPD, unsur TNI-Polri, serta berbagai pemangku kepentingan lainnya.

Munafri menegaskan, peringatan tahun ini mengusung tema “Siap untuk Selamat” dengan subtema “Bersatu dalam Siaga Tangguh Menghadapi Bencana”. Menurutnya, tema tersebut bukan sekadar slogan, melainkan panggilan moral bagi seluruh elemen masyarakat.

“Kesiapsiagaan bukan menunggu bencana datang, tetapi bagaimana kita mempersiapkan diri sebelum bencana itu terjadi. Ini adalah tanggung jawab bersama,” ujar Munafri.

Antisipasi Berbagai Potensi Bencana
Sebagai kota berkembang, Makassar menghadapi berbagai potensi bencana, mulai dari banjir saat musim hujan, kebakaran di musim kemarau, angin kencang, hingga ancaman gelombang pasang di wilayah pesisir.

Munafri menekankan pentingnya pemahaman mitigasi bencana yang harus dimiliki seluruh lapisan masyarakat, termasuk anak-anak.

“Pengetahuan mitigasi harus ditanamkan sejak dini agar keselamatan jiwa menjadi prioritas utama,” tegasnya.

Kolaborasi Lintas Sektor Jadi Kunci
Munafri juga menyoroti pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam penanggulangan bencana. Menurutnya, tidak ada pihak yang dapat bekerja sendiri tanpa sinergi yang kuat.

Kolaborasi antara pemerintah, TNI-Polri, perguruan tinggi, hingga komunitas masyarakat dinilai menjadi kekuatan utama dalam meminimalkan risiko bencana.

Ia juga mengapresiasi peran BPBD Makassar dan seluruh stakeholder yang aktif memberikan edukasi serta meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat.

Nilai Lokal dan Program Inovatif
Dalam sambutannya, Munafri mengangkat nilai kearifan lokal Siri’ na Pacce sebagai fondasi solidaritas sosial dalam menghadapi bencana.

“Siri’ mengajarkan kehormatan untuk melindungi sesama, sementara Pacce mengajarkan bahwa penderitaan satu orang adalah tanggung jawab bersama,” ujarnya.

Selain itu, Pemkot Makassar mendorong penguatan program Sahabat Anak Afirmasi Aman Bencana (SALAMA) untuk menanamkan kesiapsiagaan sejak usia dini. Program ini melibatkan Dinas Pendidikan, Dinas Kesehatan, dan OPD terkait untuk implementasi di sekolah dan kelurahan.

Tiga Fokus Utama Penguatan

  • Kesiapsiagaan
    Munafri menegaskan tiga fokus utama pemerintah dalam memperkuat kesiapsiagaan bencana:
  • Peningkatan kapasitas SDM melalui pelatihan berkelanjutan.
  • Kesiapan sarana dan prasarana penanggulangan bencana.
  • Edukasi dan pembentukan komunitas tangguh sejak usia dini.

“Peralatan yang siap adalah nyawa yang terselamatkan,” tegasnya.

Ia berharap momentum ini menjadi titik tolak menjadikan kesiapsiagaan sebagai budaya, bukan sekadar kegiatan seremonial.

Aliyah: Kesiapsiagaan Adalah Tanggung Jawab Bersama
Wakil Wali Kota Makassar, Aliyah Mustika Ilham, menegaskan bahwa peringatan HKB harus menjadi momentum memperkuat kesadaran kolektif masyarakat.

“Kesiapsiagaan adalah kunci utama dalam meminimalkan risiko bencana. Ini bukan sekadar seremoni,” ujarnya.

Aliyah mengajak masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan, memperkuat solidaritas, dan aktif dalam mitigasi bencana.

BPBD: Edukasi Sejak Dini Sangat Krusial
Kepala Pelaksana BPBD Makassar, Fadli Tahar, menekankan pentingnya edukasi sejak dini sebagai fondasi kesiapsiagaan.

“Kami mengedukasi mulai dari PAUD hingga SMP agar anak-anak memahami cara menghadapi bencana,” jelasnya.

Ia menambahkan, metode edukasi dilakukan secara interaktif melalui simulasi, permainan, dan latihan langsung.

Fadli juga mengingatkan bahwa dalam situasi bencana, peran masyarakat sangat dominan.

“Sekitar 95 persen korban bencana diselamatkan oleh diri sendiri dan lingkungan sekitar,” ungkapnya.

Karena itu, BPBD Makassar mendorong pembentukan Kelurahan Tangguh Bencana (Kaltana) dan Kecamatan Tangguh sebagai upaya memperkuat kapasitas masyarakat di tingkat lokal.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *